JAKARTA , MataRakyat.Online– Polisi menangkap lima pelaku begal terhadap seorang petugas pemadam kebakaran (Damkar) bernama Bimo Margo Hutomo (29), yang terjadi di Jalan KH Hasyim Ashari, Cideng, Gambir, Jakarta Pusat, pada Kamis (2/4) dini hari. Penangkapan dilakukan pada Senin (13/4) malam saat para pelaku tengah berpesta narkoba di sebuah hotel di kawasan Pluit, Jakarta Utara.
Pengungkapan kasus ini merupakan hasil operasi gabungan antara Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Satreskrim Polres Metro Jakarta Pusat setelah aksi para pelaku viral di media sosial. Kelima pelaku yang diamankan berinisial F (30), RS (19), TA (20), R (21), dan RA (24).
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Saputra, menyampaikan bahwa saat penangkapan, para pelaku sedang berkumpul di dalam kamar hotel dan mengonsumsi narkoba.
“Mereka party kumpul di situ, pakai narkoba. Tapi yang laki-lakinya saja,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan.
Namun demikian, dalam video yang beredar, terlihat adanya sejumlah wanita di dalam kamar tersebut. Pihak kepolisian memastikan bahwa para wanita tersebut tidak terlibat dalam penggunaan narkoba dan telah dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan bahwa masing-masing pelaku memiliki peran berbeda dalam aksi begal tersebut. Mulai dari menabrak dan memukul korban, mengambil barang milik korban, hingga memantau situasi di sekitar lokasi kejadian.
Peristiwa pembegalan itu sendiri terekam kamera CCTV dan menunjukkan aksi kekerasan yang cukup brutal. Korban dipepet saat melintas dari arah Tomang menuju Harmoni, kemudian ditendang hingga terjatuh. Meski demikian, korban sempat berusaha mempertahankan diri sebelum akhirnya diserang menggunakan benda tumpul dan batu oleh para pelaku.
Di sisi lain, aksi tersebut kembali menyoroti persoalan keamanan jalanan di wilayah perkotaan, khususnya pada jam-jam rawan. Keberanian pelaku yang bertindak secara berkelompok menunjukkan adanya pola kejahatan terorganisir, meskipun dalam skala kecil.
Kejadian ini juga menimbulkan keresahan publik, terlebih korban merupakan petugas layanan darurat yang selama ini dikenal membantu masyarakat. Serangan terhadap petugas publik tidak hanya berdampak pada korban secara individu, tetapi juga menyentuh rasa aman masyarakat secara luas.
Meski demikian, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap waspada saat beraktivitas, terutama di waktu dini hari dan di lokasi yang minim penerangan. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak mudah terpengaruh oleh potongan video yang beredar tanpa informasi lengkap.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan bisa terjadi di ruang mana saja, bahkan di tengah aktivitas yang tampak biasa. Pertanyaannya, sejauh mana kita sebagai masyarakat dan sistem mampu mencegah, bukan hanya menindak, agar peristiwa serupa tidak terus berulang di kemudian hari.









