JAKARTA – MataRakyat.Online – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menjelaskan bahwa dana efisiensi anggaran pemerintah yang disebut mencapai sekitar Rp308 triliun bukan disimpan, melainkan dialokasikan kembali untuk berbagai program prioritas yang dinilai langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono saat berdiskusi bersama mahasiswa dan masyarakat dalam tayangan di akun Instagram resminya.
Dalam pemaparannya, Sudaryono menepis anggapan yang menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyebab kondisi keuangan negara memburuk.
“Yang dimaksud efisiensi itu bukan uangnya disimpan. Tetapi belanja-belanja yang tidak penting dipangkas, lalu dialihkan untuk program yang lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Sudaryono.
Dana Efisiensi Dialihkan ke Program Prioritas
Menurut Sudaryono, hasil efisiensi anggaran digunakan untuk membiayai sejumlah kebutuhan strategis nasional, di antaranya:
- Tambahan anggaran pupuk sekitar Rp40 triliun.
- Penguatan modal Bulog sekitar Rp39 triliun untuk menyerap gabah petani.
- Perbaikan sekolah rusak sekitar Rp19 triliun.
- Rehabilitasi jaringan irigasi sekitar Rp12 triliun.
- Pembangunan Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
- Berbagai pembangunan infrastruktur dasar yang dinilai berdampak langsung bagi masyarakat.
Sudaryono menggambarkan proses pengambilan keputusan tersebut sebagai bentuk pengalihan anggaran dari belanja yang dianggap kurang produktif menuju program-program prioritas pemerintah.
Bantah MBG Jadi Beban APBN
Dalam diskusi tersebut, Sudaryono menilai muncul persepsi yang kurang tepat mengenai Program Makan Bergizi Gratis.
Ia berpendapat bahwa sebelum program tersebut berjalan, masih banyak kebutuhan dasar seperti sekolah rusak, irigasi, hingga pupuk yang belum terpenuhi secara optimal.
“Dulu tidak ada MBG, sekolah juga tetap rusak. Sekarang ada MBG, sekolah diperbaiki. Dulu pupuk kurang, sekarang dipenuhi bahkan disebut lebih murah. Jadi bukan MBG yang membuat negara kekurangan uang,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah justru melakukan penataan ulang belanja negara agar dana yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan yang dianggap kurang prioritas dapat dialihkan kepada sektor pendidikan, pertanian, pangan, dan pembangunan infrastruktur.
Dorong Efisiensi Anggaran
Sudaryono juga mencontohkan sejumlah pos anggaran yang menurutnya dapat dikurangi, seperti seminar, rapat yang tidak mendesak, hingga studi banding ke luar negeri yang tidak memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Efisiensi tersebut, lanjutnya, menjadi sumber pembiayaan berbagai program pemerintah tanpa harus mengurangi pelayanan publik yang bersifat prioritas.
Perlu Transparansi dan Pengawasan
Pengelolaan dana negara tetap memerlukan transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan agar setiap alokasi anggaran benar-benar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan serta memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Pemerintah diharapkan terus menyampaikan informasi secara terbuka mengenai realisasi anggaran sehingga publik dapat mengetahui sejauh mana efektivitas kebijakan efisiensi yang diterapkan.
Penulis : Herman
Editor : Redaksi









