Kasus Agnes dan Cavel Disorot, Penganiayaan Ringan Berujung Penahanan Diduga Dipaksakan

- Jurnalis

Rabu, 1 April 2026 - 02:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, MataRakyat.Online –  Tim Kuasa Hukum TGP Lawyer hadir mendampingi kliennya, Cavel Ferarri dan Agnes Brenda Lee di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat yang berlokasi jalan raya S. Parman, Slipi, Jakarta Barat pada Selasa (31/03/2026) siang.

Kepada awak media, ketua tim pengacara terdakwa, Rudi Situmorang mengatakan, pihaknya menduga kasus yang dialami oleh kliennya tersebut terindikasi di paksakan (kriminalisasi) oleh tim penyidik Polres Jakarta Barat dan juga Jaksa Penuntut Umum (JPU) PN Jakarta Barat.

Pihaknya juga merasa adanya ketidakadilan dalam sidang yang digelar Majelis Hakim PN Jakarta Barat. Dimana, mereka merasakan perlakuan yang tidak adil dan seimbang saat JPU memberikan pertanyaan kepada para saksi yang diberikan waktu lebih leluasa oleh majelis hakim, dibandingkan kesempatan yang diberikan kepada tim kuasa hukum terdakwa.

 

Tim Kuasa hukum

“Kami menduga perkara klien kami ini dipaksakan, karena bagaimana mungkin kasus penganiayaan ringan yang mana hanya menampar pelapor 1 kali saja dan terlapor masih sehat dan tidak menggangu aktivitas pekerjaan kesehariannya dalam hal ini merupakan unsur dalam Penganiayaan Ringan yang seharusnya Terdakwa tidak perlu ditahan, namun klien kami tetap harus ditahan?,” ucap Rudi Situmorang, SH, ketua tim kuasa hukum TGP Lawyer.

Baca Juga :  Wagub DKI: Perputaran Ekonomi di Bundaran HI Tembus Rp2 Triliun Berkat Puncak HUT Jakarta ke-499

Lebih lanjut, Rudi mengatakan perkara yang menjerat kliennya tersebut adalah perkara penganiayaan ringan, yang masuk dalam pasal 352 KUHP yang saat ini pada Pasal 471 KUHP Baru dengan ancaman hukumannya hanya enam bulan kurungan.

 

Dalam proses persidangan yang berlangsung, pihak Majelis Hakim sempat mempertanyakan kepada saksi-saksi yang dihadirkan JPU terkait apakah pernah dilakukannya mediasi oleh kedua belah pihak sebelum perkara tersebut naik kemeja hijau.

Dalam keterangannya, beberapa saksi mengatakan sudah adanya mediasi yang dilakukan, tetapi pihak pelapor dalam hal ini saksi Airin tetap ingin melanjutkan perkara tersebut ke meja hijau dengan alasan yang telah dia paparkan di dalam persidangan.

Diketahui, saat ini terdakwa Agnes Brenda Lee  juga sedang menghadapi gugatan perdata (kasus perceraian) dengan tuduhan kliennya tidak mampu mengurus anak-anak.

Menurut Rudi Situmorang, gugatan perkara perdata perceraian tersebut pihaknya menduga ada indikasi perkara sidang pidana yang digelar saat ini bertujuan agar kliennya di penjara. Agar dalam kasus perdata perceraian yang juga sedang dalam proses sidang agar dapat mempengaruhi posisi kliennya seolah-olah tidak dapat mengurus anak-anaknya yang masih dibawah umur karena ibu kandung nya sedang di tahan dalam proses pemeriksaan penganiayaan ringan.

Baca Juga :  Said Iqbal Pastikan Negara Hadir untuk Korban Penyekapan Karyawan Percetakan di Jakpus, Desak Pelaku Dihukum Berat

“Kami menduga adanya persekongkolan agar klien kami kalah dan akan mempengaruhi putusan pengadilan perdata,  tentunya ada kesan klien kami tidak akan mampu menguras anak-anak nya yang masih kecil-kecil karena sedang dalam penjara. Nah tugas kami disini adalah agar supaya bagaimana seseorang ibu tidak dapat dipisahkan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang hanya gara-gara masalah ringan. Kasian kan nasib anak-anaknya nantinya”, pungkasnya.

Lebih lanjut, Tim Kuasa Hukum Terdakwa Agnes Brenda Lee mengatakan bahwa mereka juga akan melakukan segala tindakan hukum yang diperlukan terhadap aparat penegak hukum (APH), apabila menemukan kejanggalan dan indikasi perbuatan yang melanggar hukum agar kliennya di penjara.

Hingga berita ini diturunkan, pihak jaksa penuntut umum maupun pihak pelapor belum memberikan keterangan resmi terkait pernyataan yang disampaikan oleh kuasa hukum terdakwa.

Perkara ini masih dalam tahap persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Seluruh pihak diharapkan dapat menghormati proses hukum yang sedang berlangsung serta menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, Putusan akhir nantinya akan menjadi penentu atas fakta hukum yang sebenarnya dalam perkara ini. (HS)

 

Penulis : Herman FMBN

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Launching POSBANKUM Bojong Nangka Perkuat Literasi Hukum, RT dan RW Disiapkan Menjadi Garda Terdepan Pencegahan Konflik Warga
Polri-Kemnaker Tuntaskan Sengketa PHK PT Amos, 134 Pekerja Terima Pesangon Rp12,7 Miliar
Kronologi Lengkap Putusan MK Soal Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Ini Dampaknya bagi Jutaan Pelanggan Operator Seluler
Bos Cargo Beberkan Aliran Dana Puluhan Miliar ke Bea Cukai
Truk Pengangkut Alat Berat Hantam JPO Kapten Tendean, Sopir Diduga Main Ponsel, Jembatan Nyaris Roboh
IPA Dorong Kolaborasi Pengusaha, Ormas, dan Pemerintah Atasi Parkir Liar serta Benahi Retribusi Parkir Jakarta
Dugaan Tambang Galian C Ilegal Kembali Marak di Tenjo, Warga Soroti Pengawasan dan Minta Penindakan
Said Iqbal Pastikan Negara Hadir untuk Korban Penyekapan Karyawan Percetakan di Jakpus, Desak Pelaku Dihukum Berat

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:39 WIB

Launching POSBANKUM Bojong Nangka Perkuat Literasi Hukum, RT dan RW Disiapkan Menjadi Garda Terdepan Pencegahan Konflik Warga

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:13 WIB

Polri-Kemnaker Tuntaskan Sengketa PHK PT Amos, 134 Pekerja Terima Pesangon Rp12,7 Miliar

Jumat, 24 Juli 2026 - 02:42 WIB

Kronologi Lengkap Putusan MK Soal Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Ini Dampaknya bagi Jutaan Pelanggan Operator Seluler

Rabu, 22 Juli 2026 - 20:32 WIB

Bos Cargo Beberkan Aliran Dana Puluhan Miliar ke Bea Cukai

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:50 WIB

Truk Pengangkut Alat Berat Hantam JPO Kapten Tendean, Sopir Diduga Main Ponsel, Jembatan Nyaris Roboh

Berita Terbaru

Internasional

Shin Tae-Yong Yakin Garuda Bisa Ukir Sejarah Di Piala AFF 2026

Sabtu, 1 Agu 2026 - 15:21 WIB