COMO, Maret 2026 – Como 1907 resmi menjadi sorotan sepak bola Eropa setelah berhasil merangsek ke posisi empat besar klasemen Serie A musim 2025/2026. Pencapaian ini menempatkan klub berjuluk I Lariani tersebut di ambang sejarah: untuk pertama kalinya berpeluang tampil di Liga Champions, Senin (23/3)
Keberhasilan ini terasa semakin luar biasa mengingat perjalanan Como yang belum lama ini berada di titik terendah. Pada tahun 2019, klub ini masih berkutat di kasta keempat, Serie D, bahkan sempat mengalami kebangkrutan.
Transformasi signifikan tersebut tidak lepas dari peran tim pelatih yang dipimpin oleh Cesc Fàbregas, serta visi jangka panjang dari pemilik klub, Hartono Bersaudara melalui Djarum Group.
Sosok di Balik Kebangkitan Como
Como 1907 saat ini dimiliki oleh Robert Budi Hartono dan mendiang Michael Bambang Hartono. Berdasarkan berbagai laporan, keluarga Hartono bahkan disebut sebagai pemilik klub terkaya di kompetisi Serie A, melampaui pemilik klub-klub besar seperti Juventus dan Inter Milan.
Akuisisi Como oleh Djarum Group pada tahun 2019 menjadi titik balik sejarah klub. Saat itu, Como dibeli dengan nilai relatif kecil, sekitar 850.000 euro atau setara Rp5 miliar, ketika klub tengah terpuruk di Serie D.
Sejak saat itu, investasi dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Dengan total kekayaan keluarga yang diperkirakan mencapai sekitar 43,8 miliar dolar AS pada 2026, Hartono Bersaudara memiliki fondasi finansial yang sangat kuat untuk membangun klub secara modern.
Namun, pendekatan mereka tidak semata mengandalkan kekuatan dana. Como dibangun dengan strategi jangka panjang, termasuk penguatan manajemen, pengembangan pemain, dan pembentukan identitas klub yang kompetitif di level tertinggi.
Peran penting dalam operasional klub juga diemban oleh Mirwan Suwarso sebagai Presiden Klub, yang berhasil membawa perubahan signifikan terhadap citra dan performa tim.
Duka di Tengah Prestasi
Di tengah capaian gemilang ini, kabar duka menyelimuti keluarga besar Como. Salah satu pemilik klub, Michael Bambang Hartono, dilaporkan wafat pada Maret 2026 di usia 87 tahun.
Kepergian sosok penting tersebut menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi perjalanan klub. Keberhasilan Como menembus zona Liga Champions pun didedikasikan oleh para pemain dan staf sebagai bentuk penghormatan atas warisan dan kontribusinya.
Dari Serie D ke Ambang Liga Champions
Pencapaian Como 1907 menembus empat besar menjadi bukti nyata bahwa transformasi klub sepak bola tidak hanya ditentukan oleh sejarah panjang, tetapi juga oleh manajemen yang sehat, visi yang jelas, dan konsistensi dalam eksekusi.
Dari klub yang nyaris hilang dari peta sepak bola profesional, kini Como menjelma menjadi kekuatan baru yang mampu menantang dominasi klub-klub besar Italia.
Jika mampu mempertahankan posisi hingga akhir musim, Como 1907 akan mencatatkan salah satu kisah paling inspiratif dalam sejarah sepak bola Eropa—sebuah perjalanan dari keterpurukan menuju panggung elit Liga Champions.
Penulis : Herman
Editor : Redaksi









