Jakarta | MataRakyat.Online – Konflik antara Iran dengan Israel yang didukung Amerika Serikat terus memanas. Serangan militer yang telah berlangsung lebih dari sepekan memunculkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Di tengah klaim Amerika Serikat yang menyatakan operasi militernya telah mencapai kemenangan, Iran justru memberikan sinyal berbeda. Melalui pernyataan resmi, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa akhir konflik tidak ditentukan oleh Washington, melainkan oleh pihak Iran sendiri.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan: mengapa Iran begitu percaya diri menghadapi dua kekuatan militer besar seperti Amerika Serikat dan Israel?
Strategi Perang Atrisi
Sejumlah analis militer menilai Iran sedang menerapkan strategi perang atrisi atau attrition war. Strategi ini tidak berfokus pada kemenangan cepat dalam pertempuran konvensional, melainkan pada upaya menguras sumber daya ekonomi, militer, dan psikologis lawan secara bertahap.
Pendekatan ini dilakukan melalui konflik yang berlangsung lama, operasi tidak langsung, serta penggunaan kelompok sekutu atau proksi di berbagai wilayah.
Menurut pakar keamanan Timur Tengah dari Royal United Services Institute, H. A. Hellyer, strategi militer Iran saat ini bukan bertujuan mengalahkan Amerika Serikat atau Israel dalam perang konvensional.
Sebaliknya, Iran berupaya membuat konflik menjadi berlarut-larut, tersebar di berbagai wilayah regional, serta menimbulkan biaya ekonomi yang besar bagi lawannya.
“Pendekatan Iran adalah membuat konflik mahal dan panjang, bukan memenangkan pertempuran langsung,” ujar Hellyer seperti dikutip dari BBC.
Menguras Sumber Daya Lawan
Pandangan serupa disampaikan Nicole Grajewski, asisten profesor di Centre for International Studies (CERI), Sciences Po. Ia menjelaskan bahwa perang atrisi bertujuan melemahkan lawan dengan cara menguras sumber daya mereka secara bertahap.
Strategi ini dapat mencakup serangan terbatas, tekanan militer berulang, hingga penggunaan kelompok sekutu regional sebagai bagian dari jaringan perlawanan.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya biaya perang yang harus ditanggung Amerika Serikat dan Israel.
Beberapa hari setelah operasi militer besar dilancarkan terhadap Iran, biaya perang yang harus ditanggung pembayar pajak Amerika Serikat mulai menjadi sorotan. Sejumlah analis memperkirakan pengeluaran militer Washington dalam konflik tersebut dapat mencapai sekitar Rp15 triliun per hari.
Konflik Berpotensi Berkepanjangan
Jika strategi perang atrisi benar-benar diterapkan, konflik di Timur Tengah berpotensi berlangsung dalam jangka panjang. Alih-alih pertempuran besar secara langsung, konflik kemungkinan akan berlangsung melalui tekanan ekonomi, operasi militer terbatas, serta eskalasi melalui sekutu regional.
Situasi ini dinilai dapat meningkatkan ketidakstabilan geopolitik dan berdampak luas terhadap keamanan kawasan serta ekonomi global.
Penulis : Redaksi
Editor : Herman









