Hidup Bukan Sekadar Hidup: Menemukan Arah di Tengah Deru Zaman

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 03:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | MataRakyat.Online – Tidak sedikit manusia yang berhasil menjalani hidup, tetapi sangat sedikit yang benar-benar memahami untuk apa ia hidup.

 

Setiap pagi, jutaan orang bangun, bergegas bekerja, mengejar target, membangun karier, dan merencanakan masa depan. Hari berjalan begitu cepat. Kesibukan seolah tidak pernah habis. Di tengah pusaran itu, pertanyaan paling mendasar sering kali terlewat: ke mana sebenarnya hidup ini membawa kita?

 

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat menentukan. Manusia yang tidak memahami tujuan hidup akan mudah terseret pada tujuan-tujuan semu yang tampak menggiurkan, namun tidak selalu membawa ketenangan.

 

Paradoks Zaman Maju

Kita hidup di zaman yang bergerak sangat cepat. Teknologi memudahkan akses informasi hanya dalam hitungan detik. Dunia terasa berada dalam genggaman. Ironisnya, banyak orang semakin mudah menemukan alamat sebuah tempat, tetapi semakin sulit menemukan arah hidupnya sendiri.

 

Ada yang berhasil menumpuk harta, tetapi gagal membangun ketenangan. Ada yang dikenal oleh ribuan orang di media sosial, tetapi asing terhadap dirinya sendiri. Ada pula yang begitu sibuk mengisi hari-harinya, tetapi lupa memahami makna kehidupan yang sedang dijalaninya.

 

Kita banyak belajar tentang cara mencari penghasilan, tetapi jarang diajarkan cara menjalani kehidupan. Kita dididik untuk menjadi sukses, tetapi sering lupa dididik untuk menjadi manusia yang utuh. Padahal usia yang terus bertambah bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan yang membawa kita semakin dekat pada satu kepastian yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun: pertemuan dengan Allah SWT.

 

Ketika Dunia Menjadi Tujuan

Bekerja keras, mencari rezeki, membangun usaha, serta memiliki rumah yang nyaman bukanlah sesuatu yang salah. Islam justru mendorong umatnya menjadi pribadi yang produktif, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama.

 

Masalah muncul ketika dunia yang seharusnya menjadi sarana berubah menjadi tujuan utama. Ketika kebahagiaan hanya diukur dari jumlah harta. Ketika kehormatan hanya dinilai dari jabatan. Ketika nilai seseorang ditentukan oleh apa yang dimiliki, bukan oleh akhlak, integritas, dan manfaat yang diberikannya kepada orang lain.

 

Pada titik itulah manusia mulai terjebak dalam ilusi. Terus berlari tanpa mengetahui tujuan akhirnya. Terus mengumpulkan tanpa pernah merasa cukup. Terus mengejar tanpa pernah benar-benar tenang.

Baca Juga :  Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan Kompak Gaungkan Semangat Berkurban di Tangsel

 

Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu menghadirkan kebahagiaan, popularitas tidak selalu melahirkan ketenangan, dan kekuasaan tidak selalu menghasilkan kemuliaan. Sebab, hati manusia memiliki kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh materi. Ada ruang dalam jiwa yang hanya dapat diisi oleh keimanan. Ada kegelisahan yang hanya dapat ditenangkan oleh kedekatan kepada Allah SWT.

 

Al-Qur’an sebagai Kompas Kehidupan

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk mengejar pahala. Ia adalah pedoman hidup agar manusia tidak tersesat dalam perjalanan kehidupannya.

 

Di dalamnya terdapat petunjuk tentang cara berpikir, bersikap, mengambil keputusan, membangun keluarga, bermasyarakat, menghadapi ujian, mengelola kekuasaan, menggunakan harta, hingga mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

 

Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya relevan untuk masa lalu. Ia relevan untuk hari ini, esok, dan akan tetap relevan hingga akhir zaman. Yang berubah hanyalah bentuk persoalan manusia, sedangkan hakikat persoalannya tetap sama. Manusia membutuhkan arah, membutuhkan ketenangan, dan membutuhkan makna. Semua itu telah Allah jelaskan melalui firman-Nya.

 

Kisah sebagai Cermin Kehidupan

Salah satu keindahan Al-Qur’an adalah cara Allah mendidik manusia melalui kisah. Kisah para nabi dan umat terdahulu bukanlah dongeng pengantar tidur, melainkan pelajaran hidup yang abadi.

 

Saat membaca kisah Nabi Nuh AS, kita belajar tentang kesabaran yang tidak mengenal batas. Dari Nabi Ibrahim AS, kita belajar keteguhan dalam mempertahankan kebenaran. Dari Nabi Yusuf AS, kita belajar menjaga kehormatan ketika godaan datang dari berbagai arah. Dari Nabi Musa AS, kita belajar memperjuangkan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan kekuasaan yang besar.

 

Sebaliknya, dari Fir’aun kita belajar bahwa kesombongan adalah jalan menuju kehancuran. Dari Qarun kita belajar bahwa kekayaan tanpa rasa syukur dapat berubah menjadi bencana. Dari umat-umat terdahulu kita belajar bahwa kemajuan tanpa keimanan sering kali berakhir pada kehancuran.

 

Manusia modern dapat melihat dirinya dalam kisah-kisah tersebut. Zaman boleh berubah, tetapi sifat dasar manusia tidak banyak berubah.

 

Rasulullah SAW: Teladan yang Menjelaskan Jalan

Jika Al-Qur’an adalah petunjuk, maka Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh sempurna tentang bagaimana petunjuk itu dijalankan dalam kehidupan nyata.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Hadiri Puncak PENAS XVII di Gorontalo, Tegaskan Swasembada Pangan Bukti Kemandirian Bangsa

 

Beliau adalah pemimpin yang adil, suami yang penyayang, ayah yang lembut, sahabat yang setia, pedagang yang jujur, sekaligus hamba Allah yang paling taat.

 

Beliau tidak hanya mengajarkan kebaikan melalui kata-kata, tetapi juga memperlihatkannya melalui tindakan. Saat dunia dipenuhi budaya saling menghina, beliau mengajarkan penghormatan. Saat manusia berlomba mencari perhatian, beliau mengajarkan keikhlasan. Saat banyak orang ingin dihormati, beliau menunjukkan kerendahan hati.

 

Karena itulah Allah menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik bagi seluruh umat manusia.

 

Belajar kepada Ahlinya

Memahami Al-Qur’an dan Sunnah membutuhkan ilmu. Tidak cukup hanya membaca sepintas atau mengandalkan potongan informasi dari media sosial.

 

Agama memiliki dasar, metodologi, dan kedalaman yang harus dipelajari secara benar. Karena itu, umat Islam diperintahkan untuk belajar kepada para ulama dan ahli ilmu yang memiliki kompetensi, integritas, serta pemahaman yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

 

Di tengah banjir informasi saat ini, kemampuan membedakan antara ilmu dan opini menjadi sangat penting. Tidak semua yang ramai dibicarakan adalah kebenaran. Tidak semua yang terdengar meyakinkan berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

Hidup adalah Amanah

Pada akhirnya, hidup bukanlah soal berapa lama kita berada di dunia. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mengisi waktu yang Allah titipkan kepada kita.

 

Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan dilepaskan. Popularitas akan dilupakan. Tubuh yang hari ini kuat suatu saat akan kembali menjadi tanah.

 

Namun amal saleh, akhlak yang baik, ilmu yang bermanfaat, serta jejak-jejak kebaikan akan terus menyertai perjalanan manusia menuju kehidupan yang abadi.

 

Karena itu, jangan biarkan usia habis hanya untuk mengejar dunia yang sementara. Jangan biarkan hati terlalu sibuk mencintai ciptaan hingga melupakan Sang Pencipta. Jangan biarkan kehidupan berlalu tanpa arah dan makna.

 

Mari kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman berpikir, menjadikan Sunnah Rasulullah SAW sebagai teladan bertindak, serta menjadikan para ulama sebagai pembimbing dalam memahami agama secara benar.

 

Hidup ini bukanlah kebetulan. Bukan pula perjalanan tanpa tujuan. Kita semua sedang menempuh jalan pulang. Dan sebaik-baik perjalanan adalah perjalanan yang dipandu oleh petunjuk Allah SWT.

Penulis : Herman

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Survei: Masyarakat Ingin Dana ZISWAF Lebih Difokuskan untuk Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan
Andra Soni: Rezeki yang Dimiliki Harus Memberi Manfaat bagi Orang Lain
Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan Kompak Gaungkan Semangat Berkurban di Tangsel
Niat Sholat Witir Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 00:00 WIB

Survei: Masyarakat Ingin Dana ZISWAF Lebih Difokuskan untuk Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan

Selasa, 2 Juni 2026 - 03:27 WIB

Hidup Bukan Sekadar Hidup: Menemukan Arah di Tengah Deru Zaman

Rabu, 27 Mei 2026 - 23:52 WIB

Andra Soni: Rezeki yang Dimiliki Harus Memberi Manfaat bagi Orang Lain

Rabu, 27 Mei 2026 - 21:20 WIB

Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan Kompak Gaungkan Semangat Berkurban di Tangsel

Kamis, 19 Februari 2026 - 15:25 WIB

Niat Sholat Witir Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Berita Terbaru

Internasional

Shin Tae-Yong Yakin Garuda Bisa Ukir Sejarah Di Piala AFF 2026

Sabtu, 1 Agu 2026 - 15:21 WIB