MataRakyat.Online | Jakarta — Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Pemerintah Teheran menegaskan tidak akan tunduk terhadap ancaman Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya mengeluarkan ultimatum keras terkait situasi di Selat Hormuz.
Pernyataan tegas itu disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Minggu, 22 Maret 2026, di Teheran. Dalam keterangan resminya, IRGC menyatakan bahwa Iran siap menutup sepenuhnya Selat Hormuz jika Amerika Serikat benar-benar menyerang fasilitas energi mereka.
Pernyataan tersebut dilaporkan oleh Reuters pada Senin, 23 Maret 2026, dari Dubai, yang mengutip sumber pejabat militer Iran.
“Iran akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz yang strategis jika Presiden AS melaksanakan ancamannya,” demikian pernyataan resmi IRGC.
Ancaman Balasan Meluas ke Infrastruktur AS
Lebih lanjut, IRGC—yang berada di bawah komando tertinggi Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei—juga menegaskan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran akan dibalas secara luas.
Transisi dari peringatan ke ancaman nyata terlihat jelas ketika IRGC menyebut bahwa:
- Perusahaan dengan keterkaitan saham Amerika Serikat di Timur Tengah akan menjadi target
- Fasilitas energi, sistem teknologi informasi (IT), hingga instalasi desalinasi air berpotensi diserang
Negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS juga masuk dalam daftar sasaran
Informasi tambahan ini turut diperkuat oleh laporan akun analis pasar global The Kobeissi Letter, yang menyebut potensi eskalasi serangan lintas sektor.
Strategi Iran Berubah: Dari Defensif ke Ofensif
Seiring meningkatnya tensi, pejabat militer senior Iran mengungkapkan bahwa strategi pertahanan negara kini telah mengalami perubahan signifikan.
Dari sebelumnya bersifat defensif, kini Iran mengadopsi pendekatan ofensif sebagai bentuk kesiapan menghadapi konflik terbuka. Selain itu, pemerintah Iran juga dikabarkan telah menyiapkan cadangan komoditas strategis yang cukup untuk bertahan hingga satu tahun ke depan.
Langkah ini menunjukkan bahwa Teheran tidak hanya siap secara militer, tetapi juga dari sisi logistik dan ketahanan ekonomi.
Ultimatum Trump: 48 Jam atau Diserang
Sebelumnya, pada Sabtu, 21 Maret 2026, di Washington D.C., Presiden AS Donald Trump menyampaikan ultimatum melalui media sosial resminya.
Dalam pernyataan tersebut, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mengambil tindakan militer jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
“Jika Iran tidak membuka Selat Hormuz sepenuhnya tanpa ancaman dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar,” tulis Trump.
Pernyataan ini menandai perubahan dari potensi de-eskalasi menuju ancaman konfrontasi langsung.
Dampak Global: Ancaman Krisis Energi Dunia
Sebagai jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global, Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam distribusi energi dunia.
Penutupan selat ini berpotensi memicu dampak besar, antara lain :
- Gangguan terhadap sekitar 20–30% pasokan minyak global
- Lonjakan harga minyak dunia secara signifikan
- Tekanan ekonomi global, termasuk negara-negara di Asia dan Eropa
Dengan eskalasi yang terus meningkat, situasi ini menjadi perhatian serius komunitas internasional karena berpotensi memicu krisis energi dan konflik regional yang lebih luas.
Penulis : Herman
Editor : Redaksi









