SERANG | MataRakyat.Online – Di tengah tantangan mewujudkan swasembada pangan nasional, nama Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar menjadi salah satu sosok yang kerap diperbincangkan dalam dunia pertanian Indonesia. Melalui inovasi bioteknologi yang dikenal sebagai Bio P2000 Z atau “Mikroba Google”, Ali menawarkan pendekatan baru dalam meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.
Lahir di Demak, Jawa Tengah, pada 19 Mei 1972, Ali mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk penelitian mikrobiologi tanah. Berbekal pendidikan di bidang pertanian dan pengalaman panjang di lapangan, ia mengembangkan teknologi bioperforasi yang memanfaatkan mikroorganisme lokal untuk mengoptimalkan unsur hara di dalam tanah.
Nama “Mikroba Google” muncul karena kemampuan mikroba tersebut yang dianalogikan dapat “mencari” unsur hara yang tersembunyi di dalam tanah sehingga lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman. Teknologi tersebut kemudian diberi nama resmi Bio P2000 Z, yang telah memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual melalui World Intellectual Property Organization (WIPO).
Berawal dari Penelitian di Lahan Gambut
Perjalanan penelitian Ali tidak berlangsung singkat. Selama bertahun-tahun ia meneliti berbagai mikroorganisme yang hidup di lingkungan ekstrem, termasuk kawasan gambut yang memiliki tingkat keasaman tinggi.
“Saya mencari dan memburu mikroba-mikroba yang bagus di daerah gambut yang sangat masam. Ternyata di situ ada mikroba-mikroba spesial yang hidup dengan baik. Setelah kita kultur, mikroba-mikroba itu bermanfaat dan bukan patogen,” ujar Ali Zum Mashar.
Dari penelitian tersebut, ia berhasil mengembangkan formulasi sekitar 18 jenis mikroba yang kemudian menjadi dasar Bio P2000 Z.
Menurut Ali, teknologi tersebut mampu membantu memperbaiki struktur tanah yang telah mengalami degradasi akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, termasuk lahan gambut, bekas tambang, hingga tanah berpasir.
Diklaim Mampu Merehabilitasi Lahan Kritis
Ali menyatakan Bio P2000 Z telah diterapkan di berbagai jenis lahan kritis, termasuk bekas pertambangan, lahan gambut, sebagian kawasan terdampak lumpur Lapindo di Sidoarjo, serta lahan berpasir di Timur Tengah.
“Prinsipnya, setiap tanah mengandung mineral yang dapat diubah oleh mikroba yang tepat menjadi unsur hara bagi tanaman,” ungkap Ali.
Ia bahkan pernah menyampaikan keyakinannya bahwa teknologi tersebut dapat mempercepat pemulihan lahan terdampak lumpur Lapindo sehingga kembali dapat ditanami.
Meningkatkan Produktivitas Pertanian
Di pusat penelitian miliknya di Kampung Cikutu, Desa Rancasanggal, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Ali mengembangkan berbagai komoditas pertanian menggunakan Bio P2000 Z.
Ia mengklaim produktivitas kedelai mampu meningkat hingga sekitar 3,5 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional. Selain kedelai, teknologi tersebut juga disebut telah diterapkan pada tanaman padi, jagung, kakao, kelapa sawit, karet, durian, mangga, dan rambutan.
Selain Bio P2000 Z, Ali juga mengembangkan varietas Padi Trisakti MIGO yang didaftarkan untuk memperoleh Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
Pengakuan dari Pemerintah Indonesia Dedikasi Ali di bidang inovasi pertanian mendapat perhatian pemerintah.
Pada tahun 2004, ia menerima Anugerah Kalyana Kretya Utama, penghargaan bagi peneliti yang dinilai berhasil menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Lima tahun kemudian, ia kembali menerima Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Tahun 2009 atas inovasi Bio P2000 Z yang telah memperoleh pengakuan hak kekayaan intelektual melalui WIPO.
Selain itu, Ali juga memperoleh penghargaan dari Masyarakat Petani dan Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) serta ICMI Award 2021 atas kontribusinya dalam pengembangan inovasi pertanian.
Perhatian Tokoh Nasional
Inovasi Ali Zum Mashar turut menarik perhatian mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan.
Dalam tulisannya yang berjudul Wallahu A’lam untuk Dua Tokoh Mikroba, Dahlan mengungkapkan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Ali.
“Mungkin saya belum akan bisa bertemu tokoh kita yang hebat ini. Padahal saya pengin sekali bertemu. Dialah penemu Mikroba P2000Z yang oleh beberapa pihak disebut Mikroba Google,” tulis Dahlan Iskan.
Dahlan juga menilai inovasi seperti yang dikembangkan Ali layak memperoleh perhatian lebih besar karena berpotensi membantu mengatasi persoalan kesuburan lahan pertanian di Indonesia.
Mengabdi untuk Petani
Di balik berbagai penghargaan yang diterimanya, Ali tetap aktif mendampingi kelompok tani di berbagai daerah. Melalui pelatihan dan penerapan teknologi bioteknologi pertanian, ia terus mendorong peningkatan produktivitas sekaligus pengurangan ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Baginya, keberhasilan sebuah inovasi bukan hanya diukur dari jumlah paten yang dimiliki, tetapi sejauh mana inovasi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Catatan Redaksi: Sejumlah klaim mengenai efektivitas Bio P2000 Z, seperti kemampuan meningkatkan hasil panen hingga beberapa kali lipat atau merehabilitasi lahan kritis dalam waktu singkat, merupakan klaim dari pengembang teknologi dan pengguna di lapangan. Klaim tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui penelitian ilmiah independen dan publikasi akademik yang ditinjau sejawat agar dapat dipastikan secara objektif.
Penulis : Herman
Editor : Redaksi









