MATARAKYAT.ONLINE, TANGERANG SELATAN — Di tengah krisis pengelolaan sampah yang melanda Kota Tangerang Selatan (Tangsel) akibat keterbatasan daya tampung TPA Cipeucang, warga Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, menunjukkan langkah nyata dengan mengelola sampah secara mandiri dari tingkat rumah tangga.
Kondisi darurat sampah yang sempat memicu penumpukan di sejumlah wilayah mendorong masyarakat Cipayung tidak bergantung sepenuhnya pada sistem pembuangan akhir. Warga mulai memilah sampah sejak dari sumbernya, baik organik maupun anorganik, sebagai upaya mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA.
Salah satu penggerak utama adalah Bank Sampah “Yes Nerada” RW 10, yang telah berjalan konsisten selama hampir sembilan tahun. Melalui bank sampah ini, warga menabung sampah anorganik seperti plastik dan kertas yang kemudian memiliki nilai ekonomi, bahkan dikembangkan dalam bentuk tabungan emas.
Selain itu, pengelolaan sampah organik juga dilakukan dengan memanfaatkan komposter mandiri. Sisa sampah dapur diolah menjadi pupuk cair dan padat yang digunakan untuk kebutuhan pertanian skala lingkungan, sehingga menciptakan siklus pemanfaatan yang berkelanjutan.
Inovasi lain yang mendapat sambutan tinggi dari warga adalah budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly). Larva ini mampu mengurai sampah organik dengan cepat, sekaligus menghasilkan pakan alternatif bagi ikan dan unggas yang bernilai ekonomis.
Lurah Cipayung, Dini Nurlianti, mengapresiasi partisipasi aktif warganya dan terus mendorong program “Satu RW Satu Bank Sampah”. Ia menilai kemandirian masyarakat menjadi kunci penting dalam menekan persoalan sampah di Tangerang Selatan.
Inisiatif warga Cipayung kini dipandang sebagai contoh pengelolaan sampah berbasis komunitas yang efektif. Meski demikian, masyarakat berharap adanya dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan agar upaya pengelolaan sampah mandiri ini dapat diterapkan secara lebih luas dan berkesinambungan. (GR)
Penulis : Redaksi
Editor : Gito Rahmad









