Karhutla Gunung Semeru Meluas, 160 Hektare Terbakar dan Dua Helikopter Dikerahkan

- Jurnalis

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas gabungan masih melakukan pemadaman karhutla di kawasan Gunung Semeru, TNBTS, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Petugas gabungan masih melakukan pemadaman karhutla di kawasan Gunung Semeru, TNBTS, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

LUMAJANG, MataRakyat.Online – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Semeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menjadi perhatian. Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, kebakaran belum sepenuhnya berhasil dikendalikan dan area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 160 hektare.

Petugas gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman di sejumlah titik yang sulit dijangkau. Kondisi medan yang terjal, vegetasi kering, serta potensi pergerakan api membuat proses penanganan tidak mudah.

Data terbaru dari TNBTS menyebutkan dua lokasi masih menunjukkan aktivitas api cukup masif, yakni Blok Ayek-Ayek dan Pangonan Cilik di kawasan Desa Ranupani, Kecamatan Senduro.

 

Kebakaran Meluas ke Tujuh Titik

Kebakaran tidak hanya terkonsentrasi di satu lokasi. Berdasarkan perkembangan penanganan, titik api telah teridentifikasi di tujuh kawasan.

Lokasi tersebut meliputi Ledok Bedor, Blok Jantur, Blok Ranukembang, Ayek-Ayek, Watu Rejeng, Ranu Kumbolo, hingga Puncak Trisula.

Persebaran titik api tersebut menunjukkan kompleksitas penanganan karhutla di kawasan TNBTS. Petugas harus bergerak pada medan berbukit dengan akses yang tidak mudah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang Yudhi Cahyono menyebut operasi pemadaman dilakukan dengan melibatkan unsur gabungan.

 

Dua Helikopter Water Bombing Dikerahkan

Untuk mempercepat pemadaman, dua helikopter water bombing milik BPBD Provinsi Jawa Timur diterjunkan pada Sabtu.

Operasi udara diarahkan terutama ke titik kebakaran yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat. Pengisian air dilakukan dari Danau Ranu Pani sebelum helikopter menuju lokasi kebakaran.

Sementara dari darat, personel gabungan terus melakukan pemadaman manual sekaligus membuat sekat bakar untuk menghambat pergerakan api.

Strategi gabungan darat dan udara menjadi penting karena karakter medan di kawasan Semeru membuat sejumlah titik tidak mudah dijangkau kendaraan maupun personel.

Baca Juga :  Safari Ramadhan SMSI Tangsel: Gandeng Pesantren Samawa, Puluhan Anak Yatim Terima Bingkisan Lebaran

 

170 Pendaki Dievakuasi dari Ranu Kumbolo

Keselamatan pengunjung menjadi perhatian dalam situasi tersebut.

Pada 27 Agustus 2026, tim gabungan BPBD Lumajang, TNBTS, TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api melakukan penanganan di sejumlah titik kebakaran.

Dalam proses tersebut, sebanyak 170 pendaki dan pengunjung yang berada di Ranu Kumbolo berhasil dievakuasi dengan aman.

Evakuasi dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap perkembangan kebakaran sekaligus memastikan aktivitas masyarakat tidak menghambat operasi pemadaman.

 

Aktivitas Pendakian Semeru Ditutup

Kebakaran juga berdampak langsung terhadap aktivitas pendakian Gunung Semeru.

TNBTS melakukan penutupan aktivitas pendakian untuk menjaga keselamatan pengunjung sekaligus memberikan ruang kepada petugas dalam melakukan operasi pemadaman dan sterilisasi kawasan.

Penutupan tersebut menjadi langkah penting mengingat perkembangan api dapat berubah sewaktu-waktu akibat kondisi angin dan vegetasi yang mudah terbakar.

 

Medan Terjal Jadi Tantangan

Pemadaman karhutla di kawasan Semeru bukan pekerjaan sederhana.

Petugas harus menghadapi medan terjal dan berbukit. Kondisi tersebut menyebabkan akses menuju titik api tertentu menjadi terbatas.

Vegetasi yang mengering selama musim kemarau juga dapat menjadi bahan bakar bagi api. Jika kondisi angin mendukung, api berpotensi bergerak dan menyebar ke kawasan lain.

Karena itu, selain memadamkan api, petugas juga melakukan lokalisasi untuk mencegah kebakaran menjalar lebih luas.

 

Pemerintah Daerah Tingkatkan Penanganan

BPBD Kabupaten Lumajang bersama TNBTS dan unsur TNI-Polri terus melakukan penanganan di lapangan.

Sebelumnya, BPBD Lumajang juga telah melakukan operasi pemadaman darat dan dukungan udara pada kejadian kebakaran di kawasan TNBTS. Penanganan mencakup penyemprotan air, pembuatan sekat bakar, serta water bombing untuk menjangkau area yang sulit diakses.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Seremonial, FORMASI Bagikan 2.600 Masker kepada Warga Kelapa Dua

Kondisi kawasan juga terus dipantau untuk mendeteksi kemungkinan munculnya titik api baru maupun bara yang masih tersisa.

 

BNPB: Karhutla Masih Mendominasi Bencana

Perkembangan kebakaran di Semeru terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.

Dalam laporan perkembangan penanganan bencana pada Sabtu, 29 Agustus 2026, BNPB menyebut kebakaran hutan dan lahan masih mendominasi kejadian bencana yang tercatat dalam periode pemantauan 28–29 Agustus 2026.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih menjadi persoalan serius selama musim kemarau.

 

Masyarakat Diminta Tidak Memicu Kebakaran

Di tengah proses pemadaman, masyarakat dan pengunjung kawasan TNBTS diimbau meningkatkan kewaspadaan.

Aktivitas yang berpotensi menimbulkan sumber api harus dihindari, terutama di kawasan dengan vegetasi kering.

Kebakaran di kawasan konservasi tidak hanya berdampak terhadap keselamatan manusia, tetapi juga mengancam ekosistem, habitat satwa, dan kawasan hutan yang memiliki fungsi penting bagi lingkungan.

 

Pemadaman Masih Berlangsung

Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, karhutla di kawasan Gunung Semeru masih dalam penanganan. Luasan sekitar 160 hektare yang terbakar dan persebaran api di sejumlah titik menunjukkan bahwa operasi pemadaman membutuhkan koordinasi dan kewaspadaan tinggi.

Dua helikopter water bombing telah dikerahkan untuk membantu petugas darat menjangkau titik api yang sulit diakses.

Sementara itu, penutupan jalur pendakian dan evakuasi pengunjung menjadi bagian dari upaya memastikan keselamatan manusia selama operasi berlangsung.

Bagi kawasan konservasi seperti TNBTS, keberhasilan penanganan bukan hanya diukur dari padamnya kobaran api, tetapi juga dari kemampuan mencegah api kembali muncul dan memulihkan kawasan yang terdampak.

 

MataRakyat.Online | Aktual, Faktual, Lugas, Berimbang

Penulis : Herman

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Soroti Fenomena Trial by Social Media, DePA-RI Sulsel: Siapa Mengadili, Netizen atau Hakim?
Buruh Desak Kepastian Kerja dan Upah Layak dalam Pengawalan RUU Ketenagakerjaan
Tumpukan Sampah Kering Terbakar di Curug Kulon, Polisi dan Damkar Bergerak Cepat Cegah Api Meluas
Soroti Maraknya Tindakan Korupsi, DePA-RI Dorong Efek Jera dan Pengembalian Aset Negara Bagi Koruptor
Kapolri Resmikan Balai Latihan Seni Silat di Serang, Gaungkan “Sabuk Kamtibmas” untuk Jaga Banten
Ketua APDESI Kabupaten Bekasi Ajak Masyarakat Dukung Kinerja Polri dan Jaga Kamtibmas Jelang Pilkades Serentak 2026
Gerak Cepat Polsek Kelapa Dua Ungkap Kasus Mayat Perempuan di Jalur Naga, Masyarakat Apresiasi, Satu Terduga Pelaku Diamankan
Bukan Sekadar Seremonial, FORMASI Bagikan 2.600 Masker kepada Warga Kelapa Dua

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Soroti Fenomena Trial by Social Media, DePA-RI Sulsel: Siapa Mengadili, Netizen atau Hakim?

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Buruh Desak Kepastian Kerja dan Upah Layak dalam Pengawalan RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 27 September 2026 - 02:34 WIB

Tumpukan Sampah Kering Terbakar di Curug Kulon, Polisi dan Damkar Bergerak Cepat Cegah Api Meluas

Minggu, 20 September 2026 - 11:00 WIB

Soroti Maraknya Tindakan Korupsi, DePA-RI Dorong Efek Jera dan Pengembalian Aset Negara Bagi Koruptor

Jumat, 18 September 2026 - 20:29 WIB

Kapolri Resmikan Balai Latihan Seni Silat di Serang, Gaungkan “Sabuk Kamtibmas” untuk Jaga Banten

Berita Terbaru

Kota Tangerang

KH Embay Mulya Syarief Dinilai Layak Jadi Penasihat Ahli Kapolri

Rabu, 14 Okt 2026 - 15:18 WIB